ANALISIS LIRIK LAGU JEPANG “FIGHTER”

ANALISIS LIRIK LAGU JEPANG “FIGHTER” KARYA BUMP OF CHICKEN (OPENING SONG DARI ANIME SAN GATSU NO LION)

Oleh: nadnad
Pendahuluan.

Analisis ini dibuat semata-mata karena keinginan belaka. Jadi bukan untuk kegiatan ilmiah. Dalam lagu “Fighter” karya Bum of Chicken, banyak ditemukan lirik yang terkesan aneh seperti lirik pada bait ini:

“Sono koe wa nagareboshi no youni. Tsugitsugi ini mimi ini tobikonde hikatte. Sakana no youni atsumaridashite. Tsumetakatta mune ini hidamari ga dekita.”

“Suara itu bagaikan bintang jatuh. Satu persatu masuk ke telinga dan bersinar. Kumpulkanlah bagaikan ikan-ikan, maka sinar mentari ‘kan bersinar di hati dingin.”

Oleh karena itu, tulisan ini berusaha mengurai kalimat-kalimat metamorf yang terdapat dalam bait-bait lagu “Fighter.” Sekali lagi, sebelum membaca aku ingatkan bahwa tulisan ini bukanlah untuk tujuan karya ilmiah. Meskipun dalam melakukan analisa lirik aku menggunakan beberapa teori sastra yang kupelajari, tetapi tidak aku tulis  di sini. Yang kutulis hanya hasil pembahasannya. Untuk romaji dan kanji dari lagu, aku akan sediakan link dan tidak kutulis ulang. Aku terjemahkan manual dari Bahasa Jepang langsung ke Bahasa Indonesia. Jika ada pertanyaan mengenai terjemahanku, silakan PM FBku .

 

video MV: Bump of Chicken “FIGHTER”

Lirik Kanji & Romaji: Klik siniKlik sini

Screenshot_131

Berikut lirik versi terjemahanku dalam bahasa Indonesia:

“Saat tersadar, aku sudah berada dalam badai.
Aku pun tidak tahu jalan pulang.
Hanya aroma dari ingatan yang mengikatku.
Dan tas kosongku pun, kupeluk sangat erat.

Dalam hujan dan angin yang mencuri sang waktu,
aku jadi takbisa melihat atau pun mendengar.
Hanya tubuhku yang bergerak dengan sendirinya.
Sekuat tenaga kutahan hatiku, yang ingin menangis.

Jika aku berhenti, rasanya aku kan menghilang.
Aku sembunyikan hatiku, menyelaraskan rasa sakit.
jika kuberbalik, rasanya aku kan terhisap.
Kuku dan taring pengecutku, mengulangi saat ini.

Hanya untuk berada di sini,
aku berteriak mengerahkan seluruh nyawaku.
Ingatan yang terlahir dari air mata,
akan jadi kekuatan untuk mengikat nafas ini.
Meskipun beberapa akan menghilang,
akan ada satu yang tersisa, tersisa sangat kuat.

Suara itu bagaikan bintang jatuh.
Satu persatu masuk ke telinga dan bersinar.
Kumpulkanlah bagaikan ikan-ikan,
maka sinar mentari ‘kan bersinar di hati yang dingin.

Aku tahu aurora ‘kan muncul.
Aku bertatap pandang dengan serangga di kakiku dan tertawa.
Dan kubertemu dengan suara langkah selain milikku.
Suara itu memperlihatkan semua hal itu.

Karena aku taktahu cara menyetuh yang biasa,
saat aku kebingungan, tangan yang menyentuhku pun,
tak peduli berapa malam telah berlalu,
memberikan detak kepada demam yang takkunjung reda.

Hanya dengan keberadaanmu di sini,
Seluruh nyawaku pun bersinar.
Hatiku yang membeku,
Detak itu bergema menyalakan api.
Meskipun aku takmengerti, aku akan di samping.
Berada di sampingmu, terdekat denganmu.

Tas kosongku tetaplah kosong.
Tiap kali, beratnya bertambah karena rasa sayang.
Setiap kali bertambah berat, aku menjadi ketakutan.
Dan kepeluk agar tidak hancur.

Aku kugenggam tangan yang menggenggamku.
Taring dan kuku pengecutku menghalau kegelapan.

Hanya untuk berada di sini,
aku berteriak mengerahkan seluruh nyawaku.
Agar bisa benar-benar menjagaku,
kamu terlahir dengan tubuh buatan.

Air mata yang melampaui kata-kata,
Detak itu tersampaikan menjadi sebuah keberanian.
Hanya dengan keberadaanmu,
Aa …. Masih terasa hangat.

Meskipun beberapa akan menghilang,
akan ada satu yang tersisa, tersisa sangat kuat.

Takkan terpisah, selalu di sisimu.
Di dalam diriku, terdekat denganku.

 

ANALISA LAGU JEPANG FIGHTER KARYA BUMP OF CHIKEN

Bait 1:

Saat tersadar, aku sudah berada dalam badai.

Aku pun tidak tahu jalan pulang.

Hanya aroma dari ingatan yang mengikatku.

Dan tas kosongku pun, kupeluk sangat erat.

Uraian:

Entah bagaimana ceritanya dia bisa berada dalam badai. Badai itu menyebabkannya tidak tahu jalan pulang. Yang bisa dia lakukan hanyalah mengikuti ingatan akan arah pulang. Dia saat itu membawa “tas kosong” yang kemudian dipeluknya sangat erat dalam badai.

 

Bait 2:

Dalam hujan dan angin yang mencuri sang waktu,

aku jadi tak bisa melihat atau pun mendengar.

Hanya tubuhku yang bergerak dengan sendirinya.

Sekuat tenaga kutahan hatiku, yang ingin menangis.

Uraian:

Di dalam badai angin dan hujan, dia tidak tahu berapa lama waktu berlalu. Dia tidak bisa melihat, juga mendengar. Yang bisa dilakukannya cuma otomatis berjalan mengikuti ingatannya*(Ingatan ini akan dijelaskan kemudian, ingat mengenai apa). Dalam kondisi seperti itu, dia rasanya ingin menangis. Namun dia berusaha menahannya.

 

Bait 3:

Jika aku berhenti, rasanya aku ‘kan menghilang.

Aku sembunyikan hatiku, menyelaraskan rasa sakit.

jika kuberbalik, rasanya aku kan terisap.

Kuku dan taring pengecutku, mengulangi saat ini.

Uraian:

Dia terus berjalan maju tanpa berhenti, karena dia merasa jika dia berhenti maka dia akan menghilang dalam badai. Dia terus menerjang badai walau terasa sakit, dan berusaha menyembunyikan rasa takut di hatinya. Dia juga tidak berbalik karena dia merasa dia bisa terbawa badai kalau berbalik. Dalam badai itu, sambil menggigit bibir dan mencengkeram erat tasnya (kuku dan taring pengecut <- menggigit bibir dan mengepal erat), dia merasakan hari tidak pernah berlalu (mengulangi saat ini).

 

Bait 4:

Hanya untuk berada di sini,

aku berteriak mengerahkan seluruh nyawaku.

Ingatan yang terlahir dari air mata,

akan jadi kekuatan untuk mengikat nafas ini.

Meskipun beberapa akan menghilang,

akan ada satu yang tersisa, tersisa sangat kuat.

Uraian:

(Hanya untuk berada di sini) bisa diartikan hanya untuk bertahan dalam badai itu. Jadi untuk dapat bertahan dalam badai itu dia telah berusaha sekuat tenaga. Seperti yang disebut di bait pertama dan kedua, yang menyebabkannya bisa terus berjalan maju adalah ingatan. Karena itu, ingatan yang menyedihkan pun (ingatan yang terlahir dari air mata (ingatan apa, nanti akan jelas kemudian)) juga merupakan kekuatan agar dia bisa bertahan hidup. Walaupun dia tidak bisa mengingat semua, tetapi ada ingatan kuat yang bisa diingatnya.

 

Bait 5:

Suara itu bagaikan bintang jatuh.

Satu persatu masuk ke telinga dan bersinar.

Kumpulkanlah bagaikan ikan-ikan,

maka sinar mentari ‘kan bersinar di hati yang dingin.

Uraian:

(Bait ini harus dilihat konteksnya dengan manga San Gatsu no Lion, kata penulisnya. Tapi aku coba analisa di luar konteks aja.)

Di dalam badai itu, dia kemudian bisa mendengar suara-suara. Dia kemudian merasakan ada harapan (bagaikan bintang jatuh di yang terlihat dalam badai). Suaranya terdengar satu per satu, dan memberikan sebuah harapan (bersinar). Dia pun mendengarkan seksama setiap suara yang ada, dan dikumpulkan bagaikan sedang mengumpulkan ikan. Jika di sini kita bayangkan kondisi mengumpulkan ikan saat memancing, maka suara yang didengarnya diibaratkan sebagai ikan. Setiap kali memancing dapat ikan, rasanya akan sangat senang. Bahkan kadang ikan diajak selfie. Jadi bisa dibayangkan setiap kali dia mendengar suatu suara(ikan) maka hatinya (yang tadi ingin menangis) terasa senang (sinar mentari bersinar).

                           

Bait 6:

Aku tahu aurora ‘kan muncul.

Aku bertatap pandang dengan serangga di kakiku dan tertawa.

Dan kubertemu dengan suara langkah selain milikku.

Suara itu memperlihatkan semua hal itu.

Uraian:

(Aku tahu aurora akan muncul). Bisa diibaratkan dengan “dia tahu badai ini akan berakhir.” Dia kemudian merasakan keberadaan serangga di kakinya. Dia pun kemudian tertawa. Jika di awal dia bilang “tidak bisa melihat dalam badai” dan di sini dia bisa melihat serangga di kaki, itu berarti dia mulai bisa melihat. Itulah kenapa kemudian dia tersenyum. Dia kemudian mendengar ada langkah kaki selain langkah kakinya dalam badai itu. Suara langkah kaki itu memberikan gambaran dia tidak sendirian dalam badai itu.

 

Bait 7:

Karena aku tak tahu cara menyentuh yang biasa,

saat aku kebingungan, tangan yang menyentuhku pun,

tak peduli berapa malam telah berlalu,

memberikan detak kepada demam yang tak kunjung reda.

Uraian:

Di dalam badai, tentu saja akan susah untuk meraba-raba sesuatu agar bisa mengetahui sekeliling. Di saat itu, dia kebingungan dan merasakan sentuhan tangan seseorang. Sentuhan tangan yang kemudian bisa dianggap sebagai itu, memberikan kehangatan pada tubuhnya yang saat itu terkena demam yang tidak kujung reda selama waktu berlalu.

 

Bait 8:

Hanya dengan keberadaanmu di sini,

Seluruh nyawaku pun bersinar.

Hatiku yang membeku,

Detak itu bergema menyalakan api.

Meskipun aku tak mengerti, aku akan di samping.

Berada di sampingmu, terdekat denganmu.

Uraian:

Pada saat dia merasakan sentuhan tangan kekasinya itu, dia kemudian merasa hidup kembali, semangat kembali. Hatinya yang mulai kehilangan keinginan (hati membeku) kemudian mulai kembali bekerja. Kemudian dia memutuskan untuk berada di dekat kekasihnya, meskipun dalam badai itu, dia tidak bisa melihat sosok kekasihnya. (Meskipun aku tak mengerti, aku akan di samping).

 

Bait 9:

Tas kosongku tetaplah kosong.

Tiap kali, beratnya bertambah karena rasa sayang.

Setiap kali bertambah berat, aku menjadi ketakutan.

Dan kupeluk agar tidak hancur.

Uraian:

Tas yang dipeluk dalam badai itu tetap saja kosong setelah berapa lama waktu berlalu. Tetapi semakin lama dia bersama tas itu di dalam badai, semakin dia merasa sayang dengan tas itu. Karena itu dia pun semakin memeluk erat tas itu* (metamorf terlepas dari konteks lagu) Intinya, semakin lama waktu yang kita habiskan dengan seseorang, maka akan tubuh rasa sayang kepada orang itu.

 

Bait 10:

Aku kugenggam tangan yang menggenggamku.

Taring dan kuku pengecutku menghalau kegelapan.

Uraian:

Dia kemudian menggenggam tangan kekasihnya yang menggenggam tangannya. Kemudian dia bertekat hati (menggigit mulut dan mengepalkan tangan yang menunjukkan tekat) dia pun berhasil melewati badai itu (menghalau kegelapan).

 

Bait 11:

Hanya untuk berada di sini,

aku berteriak mengerahkan seluruh nyawaku.

Agar bisa benar-benar menjagaku,

kamu terlahir dengan tubuh buatan.

Uraian:

(Hanya untuk berada di sini) <- Hanya untuk bisa keluar dari badai tadi, dia telah berjuang mati-matian. Bahkan dia membayangkan kekasihnya yang telah meninggal(kamu terlahir dengan tubuh buatan) agar dia bisa memberikan semangat pada dirinya untuk melalui badai itu.

 

Bait 12:

Air mata yang melampaui kata-kata,

Detak itu tersampaikan menjadi sebuah keberanian.

Hanya dengan keberadaanmu,

Aa …. Masih terasa hangat.

Uraian:

Dia menangis dan kehilangan kata-kata karena bisa melalui badai. Dia membayangkan kekasihnya masih hidup (detak itu tersampaikan) dan memberikannya keberanian agar bisa melalui badai. Ingatannya akan kekasihnya yang sudah meninggal itu, masih terasa sangat kuat.

 

Bait 13:

Meskipun beberapa akan menghilang,

akan ada satu yang tersisa, tersisa sangat kuat.

Uraian:

Meskipun beberapa ingatan akan kekasihnya nantinya akan menghilang, pasti akan ada yang membekas dan sangat kuat membekas.

 

Bait 14:

Takkan terpisah, selalu di sisimu.

Di dalam diriku, terdekat denganku.

Uraian:

Ingatan itu tidak akan pernah menghilang. Selalu menemani mereka. Ingatan itu juga akan selalu diingatnya (Di dalam diriku, terdekat denganku.)

 

KESIMPULAN:

Jadi apakah badai dalam lagu itu adalah badai dalam makna sesungguhnya?

Kalau menurutku iya. Aku pernah mengalami badai angin dan hujan di Jepang. Dalam badai itu, kita harus jalan menunduk untuk melindungi mata dari terpaan angin dan air hujan. Suara badai juga membuat kita susah mendengarkan suara mobil, kereta atau kendaraan yang lewat. Di dalam lagu itu, diceritakan si tokoh berada dalam badai dalam waktu yang cukup lama. Ini menggambarkan bahwa si tokoh dalam kondisi kesusahan, atau bisa juga kebingungan.

 

Dalam lagu itu digambarkan dua kondisi. Kondisi saat dia melawan badai sendiri dan sebelum ada bayangan akan kekasihnya, dan kondisi dia melawan badai setelah dia merasa tidak sendiri dan membayangkan kekasihnya. Kita bisa merasakan ada pergantian situasi setelah bait:

 

Hanya untuk berada di sini,

aku berteriak mengerahkan seluruh nyawaku.

Ingatan yang terlahir dari air mata,

akan jadi kekuatan untuk mengikat nafas ini.

Meskipun beberapa akan menghilang,

akan ada satu yang tersisa, tersisa sangat kuat.

 

Saat itu kondisi hati yang digambarkannya adalah “Hatinya disembunyikan.” “Hatinya ingin menangis.” “Hati yang dingin.” “Hatinya membeku.” Ini menggambarkan situasi tadi, situasi kesusahan dan kebingungan. Berikut beberapa bukti baitnya:

Dalam hujan dan angin yang mencuri sang waktu,

aku jadi takbisa melihat atau pun mendengar.

Hanya tubuhku yang bergerak dengan sendirinya.

Sekuat tenaga kutahan hatiku, yang ingin menangis.

 

Suara itu bagaikan bintang jatuh.

Satu persatu masuk ke telinga dan bersinar.

Kumpulkanlah bagaikan ikan-ikan,

maka sinar mentari ‘kan bersinar di hati yang dingin.

 

 

Semua kondisi itu kemudian bisa dilaluinya setelah dia tidak merasakan kesendirian. Berikut ini bukti pada baitnya:

 

Suara itu bagaikan bintang jatuh.

Satu persatu masuk ke telinga dan bersinar.

Kumpulkanlah bagaikan ikan-ikan,

maka sinar mentari ‘kan bersinar di hati dingin.

 

Hanya dengan keberadaanmu di sini,

Seluruh nyawaku pun bersinar.

Hatiku yang membeku,

Detak itu bergema menyalakan api.

 

Kondisi itu memberikan sebuah kesan seakan lirik itu memberitahukan bahwa rasa susah dan bingung akan berkurang saat kita tidak merasa sendiri. Saat itu menghadapinya dengan orang-orang di sekitar kita.

 

Di dalam lagu itu juga digambarkan bahwa sebuah ingatan yang kuat akan orang yang kita sayang, akan bisa memberikan kita sebuah kekuatan untuk bisa melalui masa-masa susah dan bingung. Meskipun ingatan itu bukan ingatan yang menyenangkan atau bahkan bisa juga ingatan yang menyedihkan, ingatan akan seseorang yang disayangi akan bisa memberikan sebuah keberanian untuk melewati masa-masa susah.

 

Jadi dalam lagu ini bisa ditangkap beberapa pesan:

  • Dalam kesusahan dan kebingungan, keberadaan seseorang bisa meringankan dan bahkan menjadi solusi untuk melalui semua itu.
  • Ingatan akan seseorang yang kita sayangi, akan bisa memberikan kita kekuatan dan keberanian melalui sebuah kesusahan dan kebingungan.

 

Sekian.

 

Kalau ada lagu Jepang yang kalian ingin aku bedah atau analisa, PM FB, ya …. Terima kasih.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s