Pernyataan Kaisar Jepang Ingin Turun Tahta

4 Agustus 2016

Seperti biasa, aku belajar membaca koran dengan Mizunuma-san. Kali ini beliau membawakan koran Asashi Shinbun edisi hari itu. Di dalam koran itu, beliau menyarankanku membaca artikel yang berjudul:

Pidato Kaisar Jepang dilaksanakan Tanggal 8 Agustus:

Pernyataan Perasaan Terkait Pengabdian Seumur Hidup.

13886934_1640009392994820_8154766730505873997_n

(Asahi Shibun, 4 Agustus 2016)

Dalam artikel itu dituliskan bahwa:

Telah ditetapkan bahwa tanggal 8 Agustus 2016, Kaisar Jepang (Kaisar Akihito) akan menyampaikan pidatonya terkait keinginannya untuk menyerahkan jabatan Kaisar kepada penerusnya. Pernyataan ini didapat dari orang yang berkaitan dengan parlementer Jepang. Dinyatakan juga bahwa Permasuri juga setuju mengenai keiingan dari Sang Kaisar.

Pidato itu akan disampaikan pada tanggal 8 Agustus 2016, di saat siang hari. Pemilihan tanggal 8 Agustus merupakan sebuah usaha untuk menghindari tanggal 6 Agustus dan 9 Agustus, dimana pada saat itu Hiroshima dan Nagasaki terkena bom atom. Selain itu, juga untuk menghindari tanggal 15 Agustus, dimana pada saat itu Jepang menyerah tanpa syarat.

Pada bulan Agustus juga bertepatan dengan tanggal diselenggarakannya Olympiade di Rio. Oleh karena itu, akan dipilih waktu yang menghindari saat di mana diadakan pertandingan olah raga, dengan maksud agar semua perhatian terfokuskan pada pernyataan Kaisar.

Dalam menyampaikan pernyataanya, pihak pengurus Kekaisaran dan Parlementer masih membahas apakah akan diadakan siaran langsung, atau siaran ulang. Alasan mereka mempertimbangkan pilihan siaran ulang adalah untuk menghindari terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan seperti bencana alam gempa bumi.


Kira-kita itulah yang tertulis diartikel. Namun dalam proses membacanya, banyak sekali hal-hal yang aku pelajari. Seperti Kaisar dalam bahasa Jepang disebut “Tennou Heika(天皇陛下)”. Sedangkan Permaisuri dalam bahasa Jepang disebut “Kougou  Heika (皇后陛下)”. Kemudian, anak pertama dari Kaisara yang berhak meneruskan tahta kekaisaran dalam bahasa Jepang disebut “Koutaishi (皇太子)” tanpa ada tambahan Heika-nya.

Kaisar Jepang, menurut hukum yang berlaku adalah jabatan pengabdian seumur hidup. Dari seorang Koutaishi ditunjuk menjadi seorang Kaisar-setelah Kaisar sebelumnya wafat-maka diwajibkan untuk mengemba amanah menjadi seorang Kaisar hingga seumur hidup. Seorang Kaisar tidak bisa memiliki perkejaan lainnya, selama menjabat sebagai seorang Kaisar.

Tugas seorang Kaisar Jepang sangatlah padat. Seorang Kaisar berkewajiban menyambut tamu kenegaraan yang berkunjung ke Jepang. Seorang Kaisar juga berkewajiban memberikan semangat kepada para korban bencana alam. Seperti yang aku lihat saat ada gempa di Kumamoto-ken, maka  Kaisar Akihito akan mengunjungi para korban, memberikan senyum semangat kepada para korban.

Selain itu, masih banyak kegiatan lain yang sering diputar di televisi. Meskipun seorang Kaisar Jepang tidak terlibat dalam urusan parlemen Jepang, bukan berarti seorang Kaisar bekerja lebih ringan. Terlebih lagi, seorang Kaisar diharuskan menjalani tugasnya seumur hidup, yang mana itu berarti meskipun seorang Kaisar telah menginjak umur 83 tahun atau lebih sekalipun, Kaisar tetap diharuskan menjali kegiatan menyambut tamu kehormatan dan mengunjungi serta memberi semangat para korban bencana alam.

Kemudian, sekiranya usia yang telah lanjut inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa Kaisar Akihito berkeinginan untuk turun dari tahta kekaisaran, dan menyerahkan tahta kepada Koutaishi.


Mizunuma-san, arigatou. Ii benkyou ni narimashita. ^^

Advertisements