Coretan Tentang Rumah Perawan Karya Yasunari Kawabata

Rumah Perawan Oleh Yasunari Kawabata

5713473

Judul Asli:

Nemureru Bijou (眠れる美女)

Pengarang:

Yasunari Kawabata (川端康成)

Bahasa Indonesia diterjemahkan oleh:

Asrul Sani dari buku versi Inggris The House of the Slepping Beauties

***

Buku bisa dibaca di Perpustakaan Ilmu Budaya Universita Gadjah Mada.

***

Rumah Perawan:

Nemureru Bijou atau yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berjudul Rumah Perawan, adalah novelet (novel singkat, yang mana novel ini dalam versi bahasa Indonesia hanya terdiri dari 93 halaman) karya Yasunari Kawabata, setelah pasca-perang.

Sinopsis:

Novel ini terdiri dari lima bab, yang setiap bab terdiri sekitar 10-20 halaman. Berkisah tentang lelaki tua berumur 67 tahun, bernama Eguchi, yang datang ke rumah hiburan bernama “Rumah Perawan Beradu”. Uniknya, di rumah ini, perempuan-perempuan yang melayani tamunya, dalam kondisi telah ditidurkan dengan obat bius, sehingga apapun yang dilakukan oleh tamunya, tidak akan bisa membangunkan perempuan tersebut. Ini jugalah yang menyebabkan perempuan-perempuan itu tidak tahu siapa yang mereka layani.

Pelayanan yang mereka berikan juga termasuk unik, dimana mereka hanya akan tertidur di kamar, dalam keadaan telanjang bulat. Mereka semua masih perawan. Sang Tamu boleh menyetuh, namun tidak boleh melakukan hubungan intim, ataupun melakukan kekerasan pada perempuan yang tertidur itu.

Di dalam kelima bab yang ada, Eguchi Tua, dilayani (ditemani tidur) oleh 5 perempuan yang berbeda. Dengan menatap para perempuan inillah, Eguchi kembali merasakan kenangan masa muda-nya bersama beberapa perempuan.

Poin Cerita:

Cerita ini berkisah tentang hubungan antara masa muda, masa tua, seks, cinta, dan kematian.

Salah satu narasi dalam tulisannya yang mengambarkan hal itu adalah:

… yang tua memiliki mati, dan yang muda cinta, dan mati datang hanya sekali sedangkan cinta datang berkali-kali (Kawabata, 1977: 70, penj: Arsul Sani)

Dalam buku Kuntowijoyo: Karya dan Dunianya (oleh Wan Anwar) dituliskan bahwa Y.B Mangunwijaya menyatakan bahwa Kawabata menggunakan lambang wanita-nikmat bagi orang yang sudah sangat tua. Pergulatan jati diri eksistensial Kawabata dilukiskan dalam suasana tragis khas Jepang yang berpijak pada sensualitas seksual. Tragika kawabata terasa nyeri dan ngeri karena pada akhirnya, justru si perawan yang dimatikan, lalu mayatnya dienyahkan dari rumah bordil.

***

 

Advertisements