Sejarah Huruf Jepang Dan Sastra Sajak Jepang

Sumber tulisan: Sastera Jepang Sekilas Mata oleh Nio Joe Lan (1964: Gunung Agung; Jakarta)

Dilarang mengkormersilkan tulisan ini. Silakan gunakan sebagai bahan refensi ataupun bahan penambah wawasan.

RINGKASAN BAB 1

PERANAN HURUF CHINA DI JEPANG

Penyair Abe no Nakamaro ke China dan Tidak Kembali

Bab ini menceritakan tentang sejarah huruf Jepang dan bagaimana kebudayaan China mempengaruhi terbentukknya huruf Jepang tersebut.

(Nio Joe Lan, 1964: 9)

Nio Joe Lan menyatakan bahwa, kebudayaan China termasuk di dalamnya bahasa dan huruf China tidaklah bisa dilepaskan dari pertumbuhan peradaban Jepang, begitu pula kesastraan Jepang. Tidak dapat dipastikan kapan hubungan dua negara antar China-Jepang terjadi. Namun dari catatan sejarah Jepang, tercatat bahwa dalam abad bertama tahun Masehi, Jepang bagian barat telah dimasuki oleh suku Yamato dari Korea. Diduga, dari kedatangan suku Yamato—yang mana Korea adalah tentangga negara China—masuklah unsur-unsur kebudayaan China yang dibawa oleh suku Yamato ini.

Melalui hubungan dengan negara Korea, pada tahun 285 Masehi, huruf China masuk ke Jepang secara resmi. “Dr. Edwin O. Reischauner berpendapat, mungkin tahun 285 ini harus diperbaiki menjadi tahun 405.” (Nio Joe Lan, 1964: 9)

Nio Joe Lan (1964:9) menyatakan bahwa, masuknya huruf China ke Jepang dapat dikatakan “atas undangan” kaisar Ojin. Nio Joe Lan menyatakan:

Pada masa itu suku Yamato, suku yang berkuasa di Jepang, mempunyai hubungan persahabatan yang erat dengan Paiche, sebuah negara di Korea. Di Paikche hidup seorang sarjana kesusastraan China, bernama Wani. Mungkin karena mengagumi Wani dan ingin mempelajari kebudayaan China lebih tajam, maka pada tahun 284 kaisar Ojin mengirimkan utusan ke Paikche untuk mengundang sarjana Wani itu datang ke Jepang. Dengan undangan ini, pada tahun 285 seorang utusan Paikche datang ke Jepang dengan mangajak Wani. Kaisar Ojin memandang sangat tinggi akan sarjana itu. Sarjana itu diangkatnya menjadi guru bagi pangeran Uji no Wakiratsuko. Demikian yang dituturkan dalam Japan, The Official Guide, sebuah penerbitan resmi susunan Tourist Industry Beureau Ministry of Transportation yang diterbitkan oleh Japan Travel Bureau di Tokyo, cetakan ke-4. 1955 (Nio Joe Lan, 1964: 9-10)

(Nio Joe Lan, 1964: 10)

Dinyatakan pula dalam bukunya, bahwa masyarakat Jepang banyak yang tertarik dengan kebudayaan China yang mempesona bangsa Jepang pada masa itu. Oleh karena itu banyak yang mempelajari bahasa China, dan banyak pula yang bisa menulis bahasa China klasik dalam huruf-huruf China.

Pada tahun 552 (disumber lain disebutkan tahun 538) masuknya ajaran agama Budha yang juga melalui Korea ke Jepang membuat penggunaan huruf China semakin banyak. Hal ini dikarenakan banyak buku-buku agama budha yang ditulis dengan huruf China.

Segala sesuatu yang dilakukan China sangat membuat kagum orang Jepang. Maka mereka mencoba meneladaninya. Sistem pemerintakahn disusun menurut sistem China. Bahkan ketika tahun 710 dibangun kota Nara di dataran tanah Yamato, dicontohlah kota Changan, ibukota kerajaan Tang (618-907) Ibu kota Nara dibangun ‘dengan ibukota kekaisaran China di Changan sebagai contohnya’, tulis Setsuo Uenoda. ‘Peniruan pertama oleh Jepang dari Changan dilakukan pada tahun 710 dekat kota Nara modern di dataran tanah Yamato’ demikian tulis Reischauer. Ukurannya tentu saja tak sebesar kota Changan asli. Kota Changan dicontoh untuk kedua kalinya pada pembangunan kota Kyoto beberapa mil disebelah Utara Nara, pada tahun 795 (Nio Joe Lan, 1964: 10)

(Nio Joe Lan, 1964: 11)

Orang Jepang banyak yang pergi ke negara China untuk mempelajari kebudayaan China, juga agama Budha. Selain itu, secara resmi juga dikirim utusan ke China pada masa dinasti Li Shin-min dan Yang Ming Huang. Utusan pertama kali pada tahun 630, dan yang terakhir, yaitu yang ke-12 pada tahun 838. Yaitu sekitar 70 tahun sebelum hancurnya kerjaan Tang.

 Bahasa China mendapat penghargaan sangat tinggi. Orang Jepang sampai menulis naskah dan buku-buku mereka dalam bahasa China dan dengan huruf China! Mempergunakan bahasa China dalam karya mereka dianggap bertaraf lebih tinggi daripada menulis dalam bahasa mereka sendiri. Tepat sebagaimana pada Zaman Pertengahan di Eropa, sarjana Barat lebih suka menulis dalam bahasa Latin daripada dalam bahasa mereka sendiri! (Nio Joe Lan, 1964: 11)

Pelbagai Cara Penggunaan Huruf China

(Nio Joe Lan, 1964: 11)

Huruf China memengang peran besar dalam kehidupan masyarakat Jepang. Huruf China digunakan oleh orang Jepang untuk menuliskan bahasa China.

  “Belakangan huruf china dipergunakan oleh bangsa Jepang secara fonetis (bunyinya) untuk menulis dalam bahasa sendiri. Jadi huruf itu tidak lagi dipakai artinya, melainkan diambil suaranya dan suara ini dipergunakan untuk mengeja kata-kata Jepang” (Nio Joe Lan, 1964: 11)

Selain penggunaaan huruf China ini, kemudian disusunlah (diciptakan) huruf katakana. Huruf katakana diletakkan disamping huruf china sebagai huruf bantu menyuarakan bunyi huruf china.

 “ …. Dalam sistim ini diambil beberapa bagian dari huruf china yang bersangkutan untuk mewakili suaranya. Huruf katakana disusun oleh Kibi no Makibi, seorang sarjana yang telah datang ke China pada tahun 716, dan kembali ke Jepang pada tahun 735” (Nio Joe Lan, 1964: 11)

Huruf Hiragana kemudian disusun (diciptakan) oleh Kukai, seorang pendeta agama Budha yang mendapat gerlar keagamaan Kobo Daishi (774-835). Dalam pembuatan huruf hiragana, Kukai mengunakan sejumlah huruf china dalam bentuk miring, atau bentuk yang dipakai oleh orang China untuk menulis cepat. (Nio Joe Lan, 1964: 11)

Oleh karena itu, pada saat itu, huruf China digunakan secara 4 macam di Jepang, yaitu (Nio Joe Lan, 1964: 12):

  1. Huruf China dalam bahasa China
  2. Huruf China digunakan secara fonetis dengan mengambil suaranya saja
  3. Digunakan beberapa bagian saja sebagai huruf katakana
  4. Dipergunakan dalam sistem huruf hiragana

Penyair Abe no Nakamaro wafat di China

Abe no Nakamaro adalah seorang sarjana dan seorang penyair terkenal yang di zaman Nara (710-784). Nio Joe Lan, menyatakan bahwa, menjadi sarjana pada masa itu berarti pandai dalam bahasa China. Karena bahasa Chinalah yang pada zaman itu menjadi kunci untuk dunia kesarjanaan dan kebudayaan. (Nio Joe Lan, 1964: 12)

Abe no Nakamaro memutuskan untuk berangkat ke China untuk mempelajari peradaban dan pendirian-pendirian bangsa China. Pada usia yang 17, bersama dengan 550 orang lainnya berangkatlah ia ke China. Sesampai di China, dia dianggkat menjadi pegawai tinggi di istana, dan juga menjadi murid Li Po (701-762)

Pada usianya yang ke 53, ia merasa rindu dengan kampung halamannya, dan memutuskan untuk pulang kembali ke Nara. Namun perjalanan pulang tersebut gagal karena kapal yang digunakannya untuk kembali ke Nara mengalami kecelakaan dan terdampar di Annam. Nakamaro selamat. Dan diapun kembali lagi ke Changan (ibu kota kekaisaran). Nakamaro meninggal dalam usia 70 tahun di Changan tanpa bisa kembali ke kampung halamannya, yaitu Nara.

Dalam perjalanan pulangnya ke Nara, Nakamaro sempat menuliskan sajak yang berbunyi

                Amano hara furisake mireba Kasuga naru

                Mikasa no Yama ni ideshi tsuki kamo (Nio Joe Lan, 1964: 13)

Setsuo Uenoda (dalam Nio Joe Lan, 1964: 13) menyatakan bahwa keindahan makna puisi tersebut tidak dapat dilukiskan dalam bahasa Inggris. Puisi ini, kini merupakan isi Hyakunin-isshu (Seratus Sajak oleh Seratus Penyair Pria dan Wanita Kenamaan), sebuah antologi puisi pendek yang disusun pada abad ke-12. (Nio Joe Lan, 1964: 14)

Sajak Berkembang Telebih Dahulu Dalam Kesusastraan Jepang

Dari cerita tentang Nakamaro, maka dapat diketahui bahwa setelah bangsa Jepang dapat menulis, yang bertunas dan menjadi besar telebih dahulu dalam perkembangan sastra Jepang adalah “sajak”, dan bukanlah “kisah”.

Sastrawan-sastrawan yang telah dapat menggerak-gerakkan pena bulu china untuk menciptakan ratna-manikam persajakan di atas sehelai kertas, sepotong kain, bahkan juga di atas sutera, tentu berpendirian sama dengan sastrawan-sastrawan china zaman itu, yang menganggap bahwa kisah-kisah hanya “omong kecil”. (Nio Joe Lan, 1964: 14)

Kisah Beredal Secara Lisan pada Awal Perkembangan Sastra Jepang

Pada masa itu, kisah-kisah yang ada dituturkan secara lisan, walaupun sajak sudah dituangkan dalam bentuk tertulis.

  “Kisah-kisah ini bersifat sejarah. Segolongan petugas dalam istana kaisar, yang dinamakan katari-be­, harus menghafalkan cerita-cerita sejarah itu diluar kepala. Dengan begitu mereka ini menjadi “tukan-tukang cerita”. Tujuan dari tugas mereka adalah mejaga agar tradisi zaman purba Jepang tetap tinggal dan tetap murni.” (Nio Joe Lan, 1964: 15)

“Perkerjaan katari-be itu penting. Banyak kisah telah dapat diturunkan kepada keturunan-keturunan belakang oleh mereka itu.” (Nio Joe Lan, 1964: 15)


Nadia W. Ummah, 14 September 2015

Ringkasan buku: Sastera Djepang Sekilas Mata (Nio Joe Lan. 1964. Sastera Djepang Sekilas Mata. Gunung Agung. Djakarta

Advertisements

KATA PENGANTAR (Nio Joe Lan; Sastra Jepang Sekilas Mata)

Dilarang keras mengkormersilkan tulisan ini. Gunakanlah sebagai sumber referensi atau pengetahuan.Tulisan kata pengantar ini tidak saya singkat karena merasa tidak enak meringkas kata pengantar dari penulis yang bagus ini.

Kunjungi Perpustakaan Pusat UGM untuk membaca buku aslinya, atau hubungi penerbit agar bisa dicetak ulang ^^

(Nio Joe Lan. 1964. Sastera Djepang Sekilas Mata. Djakarta; Gunung Agung)

Hal 7-8

KATA PENGANTAR

Hal 7

Antara negeri-negeri tetangga kita yang terdekat, ada juga negeri Jepang.

Bangsa Jepang bukanlah suatu bangsa yang tidak kita kenal. Dalam sepanjang waktu banyak sudah pengalaman-pengalaman kita dengan putra-putra Negeri Matahari Terbit. Terutama selama perang Pasifik.

Maka ada manfaatnya juga, apabila kita mengetahui sedikit-banyak jalan pikiran bangsa tetangga kita itu. Apalagi pada zaman sekarang ini perkembangan hubungan internasional dan kemajuan tehnik dalam pelbagai bidang telah membuat bangsa-bangsa jadi semakin dekat satu dengan lain.

Banyak jalan untuk mempelajari semangat bangsa Jepang. Terutama dalam bidang ilmu pengetahuan.

Tetapi, tidak dapat disangkal, kesastraan suatu bangsa memberikan kita kesempatan baik untuk meneropong dunia rohaniah bangsa yang bersangkutan.

Kesastraan tidak hanya dipandang sebagai hanya satu alat menghabiskan waktu luang. Banyak sekali kekayaan rohani yang terkandung di dalamnya.

Kekayaan rohaniah ini dapat kita saksikan , dapat kita kagumi dan dapat kita nikmati serta nilai, dengan cara –izinkanlah saya mengatakannya—“Sambil lalu”.

Tegasnya, bukan oleh karena kita memang menginginkan mempelajari kekayaan rohaniah itu, maka kita menjangkau sebuah buku roman. Untuk mempelajari kekayaan rohaniah haruslah orang memilih buku-buku ilmiah. Dan kita membaca sebuah roman oleh karena kita merasa tertarik untuk mengetahui, apa yang seorang penulis hentak tuturkan, hendak beritahukan kepada kita. Kita ingin saksikan suatu plot, kita ingin lihat perkembangannya dan kita ingin mengetahui bagaimana akhirnya.

Dengan berbuat demikian, secara tidak disadari, kita dipimpin disepanjang sebuah deretan khayalan seorang umat Tuhan yang dapat bayangkan dan lalu memproyektikannya dihadapan mata kita melalui pena, tinta, dan kertas.

Hal 8

Maka pengetahuan mengenai jiwa bangsa Nippon dapat juga kita peroleh dengan membaca hasil-hasil sastranya.

Pertimbangan inilah yang telah membuat saya mengambil keputusan untuk menyusun Sastera Djepang Sekilas Mata ini.

Buku ini bukanlah buku sejarah kesastraan Jepang yang lengkap. Sastera Djepang Sekilas Mata tidak berkehendak menjadi sebuah pedoman untuk mempelajari kesusastraan Jepang. Tidak, Sastera Djepang Sekilas Mata hanya berkeinginan mengajak pembacanya, bukan mempelajarinya secara seksama, melainkan mengintip ke dalam Taman Kesusastraan Negeri Bunga Sakura –Mengintip dalam sekilas mata.

Saya menginsafi benar, Sastera Djepang Sekilas Mata ini dihinggapi banyak cacat. Saya mohon kerelaan pembaca untuk sudi memaafkannya.

Semoga maksud saya, membantu dengan apa yang saya sanggup lakukan pada usaha bangsa kita untuk membuat bibliografi kita selengkap mungkin, dijadikan anasir pertimbangan juga dalam penilaian buku ini.

Saya harap, dapat menerima saran-saran untuk perbaikan buku ini. Untuk itu lebih dahulu saya haturkan banyak terima kasih.

Nio Joe Lan

Jakarta, Akhir 1961