KATA PENGANTAR (Nio Joe Lan; Sastra Jepang Sekilas Mata)

Dilarang keras mengkormersilkan tulisan ini. Gunakanlah sebagai sumber referensi atau pengetahuan.Tulisan kata pengantar ini tidak saya singkat karena merasa tidak enak meringkas kata pengantar dari penulis yang bagus ini.

Kunjungi Perpustakaan Pusat UGM untuk membaca buku aslinya, atau hubungi penerbit agar bisa dicetak ulang ^^

(Nio Joe Lan. 1964. Sastera Djepang Sekilas Mata. Djakarta; Gunung Agung)

Hal 7-8

KATA PENGANTAR

Hal 7

Antara negeri-negeri tetangga kita yang terdekat, ada juga negeri Jepang.

Bangsa Jepang bukanlah suatu bangsa yang tidak kita kenal. Dalam sepanjang waktu banyak sudah pengalaman-pengalaman kita dengan putra-putra Negeri Matahari Terbit. Terutama selama perang Pasifik.

Maka ada manfaatnya juga, apabila kita mengetahui sedikit-banyak jalan pikiran bangsa tetangga kita itu. Apalagi pada zaman sekarang ini perkembangan hubungan internasional dan kemajuan tehnik dalam pelbagai bidang telah membuat bangsa-bangsa jadi semakin dekat satu dengan lain.

Banyak jalan untuk mempelajari semangat bangsa Jepang. Terutama dalam bidang ilmu pengetahuan.

Tetapi, tidak dapat disangkal, kesastraan suatu bangsa memberikan kita kesempatan baik untuk meneropong dunia rohaniah bangsa yang bersangkutan.

Kesastraan tidak hanya dipandang sebagai hanya satu alat menghabiskan waktu luang. Banyak sekali kekayaan rohani yang terkandung di dalamnya.

Kekayaan rohaniah ini dapat kita saksikan , dapat kita kagumi dan dapat kita nikmati serta nilai, dengan cara –izinkanlah saya mengatakannya—“Sambil lalu”.

Tegasnya, bukan oleh karena kita memang menginginkan mempelajari kekayaan rohaniah itu, maka kita menjangkau sebuah buku roman. Untuk mempelajari kekayaan rohaniah haruslah orang memilih buku-buku ilmiah. Dan kita membaca sebuah roman oleh karena kita merasa tertarik untuk mengetahui, apa yang seorang penulis hentak tuturkan, hendak beritahukan kepada kita. Kita ingin saksikan suatu plot, kita ingin lihat perkembangannya dan kita ingin mengetahui bagaimana akhirnya.

Dengan berbuat demikian, secara tidak disadari, kita dipimpin disepanjang sebuah deretan khayalan seorang umat Tuhan yang dapat bayangkan dan lalu memproyektikannya dihadapan mata kita melalui pena, tinta, dan kertas.

Hal 8

Maka pengetahuan mengenai jiwa bangsa Nippon dapat juga kita peroleh dengan membaca hasil-hasil sastranya.

Pertimbangan inilah yang telah membuat saya mengambil keputusan untuk menyusun Sastera Djepang Sekilas Mata ini.

Buku ini bukanlah buku sejarah kesastraan Jepang yang lengkap. Sastera Djepang Sekilas Mata tidak berkehendak menjadi sebuah pedoman untuk mempelajari kesusastraan Jepang. Tidak, Sastera Djepang Sekilas Mata hanya berkeinginan mengajak pembacanya, bukan mempelajarinya secara seksama, melainkan mengintip ke dalam Taman Kesusastraan Negeri Bunga Sakura –Mengintip dalam sekilas mata.

Saya menginsafi benar, Sastera Djepang Sekilas Mata ini dihinggapi banyak cacat. Saya mohon kerelaan pembaca untuk sudi memaafkannya.

Semoga maksud saya, membantu dengan apa yang saya sanggup lakukan pada usaha bangsa kita untuk membuat bibliografi kita selengkap mungkin, dijadikan anasir pertimbangan juga dalam penilaian buku ini.

Saya harap, dapat menerima saran-saran untuk perbaikan buku ini. Untuk itu lebih dahulu saya haturkan banyak terima kasih.

Nio Joe Lan

Jakarta, Akhir 1961

Advertisements