Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik

Ini adalah ringkasan hasil pembacaan buku Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik, Bab 1: Kesusastraan Rakyat. Jika tertarik, silakan beli bukunya, kerena buku ini memuat banyak sekali cerita. Kita akan disuguhi berbagai macam cerita, yang terkadang cerita itu sering kita dengar, namun tidak kita sadari bahwa itu adalah bagian dari kekayaan kesusastraan melayu klasik. Silakan klik link berikut untuk keterangan buku:

Sejarah Kesusastraan Melayu KlasikSejarah Kesusastraan Melayu Klasik by Liaw Yock Fang

View all my reviews

 

 


Berikut adalah ringkasan buku.
Bab 1: Kesusastraan Rakyat (hal 1-60):
1.1 Cerita asal-usul (hal 2-4)
Cerita asal usul, disebut dengan dongeng aetiologis disebutkan merupakan cerita rakyat tertua. Cerita ini bisa dimasukkan ke dalam mitos, cerita yang dianggap benar oleh penceritanya.
Seperti yang disebutkan dalam sub-babnya, dalam buku ini disebutkan banyak sekali cerita-cerita yang merupakan asal usul sesuatu, seperti asal-usul mengapa tongkol jagung berlubang, atau pun juga cerita mengenai asal usul sebuah tempat.
1.2 Cerita Binatang (hal 4-13)
Terdapat teori yang menyatakan penyebab adanya cerita binatang yang sama di berbagai belahan dunia (Melayu, India, Eropa).
Salah satu teorinya menurut C. Hooykaas:
Cerita-cerita binatang ini berasal dari India, kemudian tersebar ke benua Asia dan Eropa. Teori ini dianggap benar, karena di India memang banyak terdapat kumpulan cerita binatang, dan binatang yang mahsyur, misal cerita Jataka, Pancatantra, Sukasaptati. (hal. 5)
Pendapat lain menyatakan bahwa cerita ini muncul dari masyarakat primitif, yang ada di mana saja. Tidak harus dari India. Masyarakat primitif ini tinggal di dalam gua bersama dengan para binatang,bergantung hidup pada binatang, dan bergaul dengan binatang, sehingga mereka tahu betul mengenai sifat para bintang. (hal, 5)
Versi Melayu
Pelanduk yang merupakan watak utama dari cerita binatang Melayu mengalami 3 tahap perkembangan. (hal 6)
  • Pelanduk hanya binatang kecil yang senantiasa terancam kehidupannya. (Cth cerita: Hikayat Sang Kancil)
  • Pelanduk sudah menjadi Tok Hakim di Rimba. (Cth cerita: Pelanduk dengan Anak Memerang)
  • Pelanduk sudah menjadi syah di rimba dan ia menghukum segala binatang yang tidak takluk kepadanya. (Cth cerita: Hikayat Pelanduk Jenaka)

R. O. Winstedt: Cerita Pelanduk dengan Anak Memerang  adalah satu cerita kisaran atau cerita sebab akibat (clock story) yang terbaik di dalam bahasa Melayu. Berkisah tentang bagaimana Pelanduk membunuh anak-anak Memerang, karena memerang selalu menganiaya ikan-ikan di sungai. (hal 7) (Dikarang oleh Raja Haji Yahya)

Cerita kisaran yang terkenal adalah Bangau. Ceritanya sudah menjadi nyanyian anak-anak sejak zaman dulu.

Versi Jawa

Buku cerita kancil versi Jawa dikarang untuk menggambarkan masyarakat Jawa. Jadi, untuk mengerti betul kumpulan cerita Kancil, diperlukan pengetahuan tentang bahasa dan pemikiran orang Jawa. (hal. 12)

Versi Daerah-Daerah Lain

Cerita Pelanduk selalu dibandingkan dengan cerita rubah yang terdapat di Eropa. H. C. Klinkert menamakan kumpulan cerita Pelanduk yang diterbitkan pada tahun 1885: Hikayat Pelandoek Djinaka of Vos der Maleiers. (Hikayat Pelanduk Jinaka atau Sang Rubah Orang Melayu).

Sebenarnya antara cerita Pelanduk dan cerita Rubah ada perbedaan yang besar. Pelanduk termasuk binatang yang kecil dan lemah. Hanya dengan kecerdasan otaknya, ia bisa hidup di dalam hutan belantara … Lain sekali sifatnya rubah, ia termasuk binatang yang buas, kejam dan selalu mengancam binatang-binatang kecil dengan giginya yang tajam. (hal. 13)

 

1.4 Cerita Jenaka (hal. 13-33)

Cerita Jenaka: Cerita tentang tokoh yang lucu, menggelikan, atau licik dan licin. Contohnya cerita “Kebayan” dalam sastra Sunda (hal. 13). Cerita ini terlahir karena kecenderungan manusia yang suka berlebih-lebihan (hal. 13). Sebagai contoh, dalam kisah Pak Pandir yang sangat bodoh (terlewat bodoh) dan Pak Belalang yang sangat beruntung (terlewat beruntung) (hal. 13) Dalam sastra Jawa, cerita jenaka kurang berkembang, mungkin karena di dalam wayang sudah ada tokoh semar, gareng, dan petruk.

Terdapata beberapa cerita (silakan membaca dari sumber aslinya, untuk mendapatkan ceritanya):

  • Cerita Lebai Malang
  • Cerita si Luncai
  • Cerita Pak Pandir (istinya bernama Mak Andeh)
  • Cerita Pak Belalang
  • Cerita Mak Jenit
  • Cerita Musang Berjanggut
  • Hikayat Mahasyodhak (A.  F. von de Wall, 1916)
  • Hikayat Abu Nawas (Cerita dari negeri seberang, yaitu Islam-India dan Arab-Parsi, yang sangat terkenal di Nusantara khususnya dikalangan para santri)

 

1.3 Cerita Pelipur Lara (hal 33-55)

Oleh R. O Winstedt, cerita pelipur lara disebut dengan folk-romance. Cerita pelipur lara adalah cerita yang dipakai untuk melipur hati yang lara, duka nestapa (hal 33). Kisah pelipur lara merupakan sarana hiburan orang terdahulu sebelum adanya tv, radio, dan lainnya. Mereka akan mendengar dari orang yang disebut sahibul hikayat (silakan baca bukunya untuk penjelasan lebih lengkap)

Ceritanya selalu bercerita tentang istana-istana yang indah buatannya (hal. 13). Dalam buku Sejarah Sastra Melayu Klasik, diberikan beberapa contoh diantaranya (silakan baca bukunya untuk penjelasan lebih lengkap)

  • Hikayat Awang Sulung Merah Muda
  • Hikayat Malim Dewa
  • Hikayat Malim Deman (dari cerita yang ada hampir mirip dengan Jaka Tarub)
  • Hikayat Raja Muda
  • Hikayat Anggun Cik Tunggal
  • Hikayat Raja Dohan
  • Hikayat Raja Ambong
  • Hikayat Raja Budiman
  • Hikayat Terong Pipit
  • Cerita Si Umbut Muda
  • Sabah Nur Aluih

Pendapat pribadi:

Dalam buku ini, diceritakan beberapa cerita pelipur lara. Cerita-cerita tersebut mengisahkan raja dan para keturunannya. Bagaimana mereka mengatasi kesulitan yang ada. Cerita yang disampaikan terkesan megah, mewah, dan sering kali menunjukkan kekuasaan dari para raja. Bisa dibayangkan, rakyat pada zaman dahulu, yang mendengarkan cerita ini, akan merasa terhibur dengan adanya cerita-cerita yang luar biasa, menginspirasi, dan juga orang-orang yang mempunyai kekuatan menakjubkan.


 

Demikian ringkasan bab 1. Semoga bisa lanjut ke ringkasan bab 2: Eposi India dan Wayang Dalam Kesusastraan Melayu

 

Advertisements

Sastra Tulis Jepang Pertama: Kojiki & Nihon Shoki

Sumber tulisan: Sastera Jepang Sekilas Mata oleh Nio Joe Lan (1964: Gunung Agung; Jakarta) Dilarang mengkormersilkan tulisan ini. Silakan gunakan sebagai bahan refensi ataupun bahan penambah wawasan. Mohon maaf jika ada kesalahan tulis atau EYD. Jangan copy-paste buat repost, ya ^^

RINGKASAN BAB II

HASIL SATRA TERTULIS JEPANG PERTAMA

Bersifat Sejarah, KOJIKI dan NIHON SHOKI

Kojiki dan Nihon Shoki (Nihongi)

Sumber: http://bhoffert.faculty.noctrl.edu/REL100/Kojiki.Nihonshoki.png


Bab ini bercerita menganai “apakah karya tulis pertama di Jepang?” “Membahasa tentang apakah karya tulis pertama di Jepang?” “Siapa dan bagaimana proses pembuatannya?” “Apa isinya?”


(Nio Joe Lan, 1964: 16)

Setelah masyarakat Jepang mengenal tulisan China, maka terbukalah pemikiran masyarakat Jepang untuk membukukan hal-hal yang diperlukan, supaya tidak dilupakan oleh generasi kemudian, ataupun untuk diturunkan kepada generasi kemudian. (Nio Joe Lan, 1964: 16)

Disebutkan bahwa karya tertulis pertama bangsa Jepang yang tertua adalah dua buku dibidang sejarah, Yaitu, Kojiki dan Nihon Shoki. Kojiki berarti “Catatan-Catatan Kuno”, dan diterbitkan pada tahun 712. Sedangkan Nihon Shoki berarti “Catatan-Catatan Jepang”, dan diterbitkan pada tahun 720.

“Pasti sudah ada keksusastraan lisan pada masa sebelum buku-buku ini. Tetapi hanya setelah orang Jepang menguasai ilmu menulis China, yang dimasukkan pertama kali pada abad ke-6, barulah sajak-sajak dan dongeng-dongeng tradisional dapat tersimpan terus,” demikian diakui dengan resmi dalam Facts about Japan yang diterbitkan oleh Bagian Penerangan Umum dan Soal-soal Keduayaan Kementrian Luar Negeri Jepang, no.21-E 10, Januari, dengan judul “Literature”. (Nio Joe Lan, 1964: 16)

Kedua buku pertama berkaitan dengan sejarah juga merupakan suatu pengaruh dari China. Di China sendiri sejarah mendapat kedudukan yang tinggi, di mana kedudukan tersebut hampir sama tinggi dengan sajak.

“Juga Dr. Erwin O. Reischauer memandang kenyataan, bahwa buku pertama yang diterbitkan di Jepang terletak di bidang sejarah, sebagai suatu gejala pengaruh China. Ia lebih jauh berpendapat: ‘Oleh karena Jepang dalam matanya sendiri adalah sebuah kerajaan menurut model China, maka jelaslah ia membutuhkan sebuah sejarah resmi.’” (Nio Joe Lan, 1964: 16-17)

(Nio Joe Lan, 1964: 17)

Kojiki ditulis dalam huruf China yang hanya memanfaatkan bunyinya saja. Kemudian, 8 tahun setelah penerbitan Kojiki, yaitu pada tahun 720 terbitlah Nihon Shoki yang disingkat dengan Nihongi. Namun, dalam penulisannya, Nihon Shoki (Nihongi) ditulis sebenuhnya dalam bahasa China.

Penyusunan Kojiki

Atas perintah kaisar Tenmu Tenno (672-686), yaitu kaisar yang ke-40, dibuatlah Kojiki. Pada tahun sebelumnya, yaitu tahun 620, dibawah perintah Pangeran Shotoku (573-621) –pada masa kekaisaran Putri Suiko- sudah disusun sebuah sejarah nasional dengan kerjasama berbagai sarjana. Namun, hasil pangeran tersebut sudah lenyap. (Nio Joe Lan, 1964: 17)

(Nio Joe Lan, 1964:18)

Penyusunan buku Kojiki dan Nihon Shoki adalah karena suatu kebutuhan untuk mempunyai sebuah buku sejarah, yang telah lama dirasakan. (Introduction to Classic Japanese Literature, hal, 5-6 via Nio Joe Lan, 1964: 17)

“Kaisar itu lalu memilih sejumlah tradisi sejarah otentik, yang sampai pada waktu itu turun-temurun dengan cara lisan, dan menyerakannya kepada Hiyeda no Are, yang mendapatkan tugas membukukannya. Tetapi Hiyeda no Are tidak berhasil dalam kewajibannya itu. … (Nio Joe Lan, 1964: 18)”

Hiyeda no Are adalah seseorang yang cerdas. Namun dikatakan, tidak diketahui apakah dia seorang pria ataupun wanita.

“Kemudian di tahun 711 pada masa pemerintahan kaisar puteri Genmei (707-715), seorang sarjana terbesar pada masa itu, O no Yasumaro (meninggal tahun 723) diperintakan mencatat peraturan-peraturan kebiasaan, yang telah disusun oleh Hiyeda no Are, dalam bentuk buku. O no Yasumaro menyelesaikan pekerjaanya ini di tahun berikutnya, tahun 712. Inilah versi yang diberikan oleh Kokusai Bunka Shinkokai (Introduction to Classic Japanese Literature, Hal. 6)” (Nio Joe Lan, 1964: 18)

Versi Lain:

Dari The Offical Guide diceritakan sebuah versi yang berbeda. Menurut buku tersebut, Kaisar Mommu telah memeriksa dongeng-dongeng yang beredar pada waktu itu dan memperbaikinya. Ia lalu menceritakannya ke Hiyeda no Are yang memiliki ingatan kuat. Namun, sebelum semua cerita selesai diceritakannya, Hiyeda no Are wafat. Kaisar Puteri Gemmyo lalu mengambil alih pekerjaan itu. Kaisar puteri ini memerintahkan O no Yasumaro, yang pendai bahasa China, menuliskan catatan itu, berdasarkan apa yang Hiyeda no Are telah ceritakan kepadanya. Dengan begitu dalam rangkain Kojiki telah turut ambil bagian Kaisar Mommu, Hiyeda no Are dan O no Yasumaro.

Penulisan Nihon Shoki

Selain memberi perintah untuk membuat Kojiki, Kaisar Tenmu juga memerintahkan untuk membuat Nihon Shoki (Nihongi). Tugas itu diserahkan kepada Kewashima no Oji (meninggal pada tahun 691). Usaha ini diselesaikan oleh anak sang Kaisar, yang bernama Toneri Shinno (6760735), pada tahun 720 dimasa kepemimpinan Kaisar Puteri Gensho (715-724).

Kojiki dan Nihon Shoki mempunyai ari besar

(Nio Joe Lan, 1964: 19)

Kojiki dan Nihon Shoki sangat penting bagi orang Jepang. Kedua buku ini berisi banyak dongen yang bukanlah sekedar dongeng biasa. Dongeng yang tercantung pada ke dua buku tersebut berhubungan dengan terjadinya bangsa Jepang.

Kokusai Bunka Shinkokai menunjukkan dalam penerbitannya: ‘oleh karena keduanya telah disusun dengan maksud memaparkan sejarah bangsa Jepang dan menerangkan penyusunan negara Jepang dari intisari sitem pemerintahan nasional, buku-buku ini sangat penting bagi Jepang dan rakyatnya. Tidak mungkin dilakukan suatu studi tentang sejarah zaman purba Jepang, kecuali apabila didasarkan atas penuturan yang diberikan di dalam buku ini. (Nio Joe Lan, 1964: 19)

Keduanya sama-sama dimulai dengan cerita mengenai terciptanya dunia. Kojiki berakhir dengan catatan tentang pemerintahan Kaisar Puteri Suiko (592-628), yang merupakan kepala pemerintahan ke-33. Sedangkan Nihon Shoki sampai pada pemerintahan Kaisar Puteri Jito (687-702), yaitu tahun 697. Kojiki hanya memberikan cerita mengenai kisah dewa-dewa. Sedangkan Nihon Shoki juga menceritakan dongeng-dongen tambahan lainnya. Dalam Nihon Shoki banyak menceritakan mengenai hubungan Jepang dengan Korea dan China. Hal terpenting yang disebutkan oleh Kokusai Bunka Shinkoi adalah pernyataan (Nio Joe Lan, 1964: 20):

                Kojiki dimaksudkan untuk pemakaian orang Jepang sendiri.

                Nihon Shoki memikili arti internasional yang lebih besar.

(cerita-cerita yang ada di Kojiki dan Nihon Shoki akan menyusul di posting)

Kojiki dan Nihon Shoki adalah lukisan-lukisan sejarah yang agak dapat dipercaya untuk zaman sejak kira-kira tahun 400 dan seterusnya. Buku-buku ini berisikan banyak mitologi, dan trasisi sejarah dari zaman-zaman dimuka itu, yang memancarkan banyak cahaya atas kepercayaan Jepang primitif dan pembangunan-pembangunan yang lebih maju dari China.” (Nio Joe Lan, 1964: 19)

Penilaian Kojiki dan Nihon Shoki (Nihongi)

Kedua buku tersebut, adalah buku yang berisi dongeng sejarah dan juga merupakan sejarah dongeng. Dongen sejarah, karena kedua buku ini berisikan dongeng-dongeng yang bersendikan sejarah, dan sejarah dongeng karena kedua buku tersebut adalah sejarah yang bersumber pada dongeng. Kedudukan kedua buku ini penting bagi masyarakat Jepang karena berisikan sumber kekuasaan dan peradaban Jepang, walau antara dongeng dan kenyataan saling jalin menjalin dengan erat sekali (Nio Joe Lan, 1964: 24)

Dalam pengutaraan Kokusai Bunkai Shinkokai ditulis: “Demikianlah pentingnya dongeng-dongen ini pada dahulu kala, sebagaimana pada dewasa ini, dan mungkin juga di hari yang mendatang”. (Nio Joe Lan, 1964: 25)


Nadia W. Ummah. 16 September 2015. Yogyakarta

Ringkasan buku: Sastera Djepang Sekilas Mata (Nio Joe Lan. 1964. Sastera Djepang Sekilas Mata. Gunung Agung. Djakarta) (BAB II)